Kau ingin tahu segala hal tentangku? Hari-hariku? Kabarku? Kesibukanku? Dengan
siapa ku habiskan waktuku? masih mengintai segala
sosial mediaku? Kau membaca semua isi blogku? Unggahan twitterku? Begini, Gus.
Semenjak hariku tanpa kau. Aku kacau, aku sepi. Aku tak berdusta tentang
pedihnya aku tanpa kamu. Beratnya , gundahnya, teramat sepi hingga aku bisa
mendengar suara detak jantungku. Aku tak baik-baik saja. Samakah denganmu?
Entahlah, jika melihat dari sudut pandangku, kau cukup baik-baik saja dengan adanya
mereka. Kau bercerita ke sana kemari tentang pedih dan lukamu. Kau bergurau
dengan banyak orang yang kau temui akhir-akhir ini. Kau bercengkrama
menceritakan banyak hal, termasuk tentang aku, tentang kejamnya aku, tentang
JAHANAMnya aku, pada mereka yang tengah mengisi kesibukanmu belakangan ini. Kau
ungkap segala perjuanganmu. Betapa tertekan dan terikatnya kau ketika bersamaku.
Uang yang kau habiskan denganku, membelikan ini itu. Iya. Terimakasih dengan
sangat. Atas perjuanganmu, tanpa aku berjuang sedikitpun. Atas banyaknya uangmu
yang habis karnaku, membelikanku begitu banyak barang dengan uangmu, sementara
aku tak pernah mengeluarkan uang serupiah pun, begitu sekiranya maksud yang ingin kau sampaikan pada teman wanitamu itu. Aku mengetik ini sambil
menahan sesak. Menahan air yang hendak turun dari mataku. Kau terlalu baik untuk
WANITA JAHANAM sepertiku. Aku sadar. Maka dari itu, kau sekarang bebaslah.
Bukankah sekarang kau sudah banyak mengenal wanita lain. Tentu lebih sholeha,
dengan pakaian yang syar'i. Berbeda dengan JAHANAM sepertiku. Agus. Aku harap,
tak ada lagi dendam diantara kita. Bagiku, kau masih seperti semula. Sosok abang
yang amat baik bagiku. Aku akan ingat segala perjuanganmu. Aku ingat segala
sabarmu. Aku ingat banyaknya uangmu yang terbuang karnaku. Gus. Sekarang,
pergilah dengan ia yang mampu mengobati lukamu. Aku terlalu JAHANAM bagimu. Gus.
Aku mohon, maafkan orangtuaku~
Komentar
Posting Komentar